▴Hut RI 81▴
- Tim Pengawasan Orang Asing Purworejo Perkuat Sinergi, 59 WNA Jadi Fokus Pengawasan
- Kodim 0708/Purworejo Gelar Sholat Istisqa, Memohon Hujan dan Karhutla Segera Padam
- Kesbangpol Purworejo Dorong Generasi Muda Jadi Pemilih Cerdas dan Bertanggung Jawab
- Karnaval Parade Kreatif Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Purworejo
- Paskibraka Purworejo Matangkan Persiapan Jelang Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI
- Karnaval Kutoarjo Meriah, Ribuan Warga Antusias Rayakan Semangat Kemerdekaan
- Kesbangpol Purworejo Dorong Pelajar SMK YPP Jadi Generasi Disiplin dan Berkarakter
- Pelepasan Kontingen POPDA Purworejo 2026, Siap Tingkatkan Tradisi Prestasi di Jawa Tengah
- Karya Bakti Sinergi TNI, Polri, Pemda, dan Masyarakat Bersihkan Pasar Purworejo
- Kunjungan Keluarga Besar Trah Jenderal Oerip Sumoharjo ke Rumah Juang DHC 45 Purworejo
Rapat Koordinasi Kesiapan Hadapi Musim Kering 2026, BPBD Purworejo Siapkan Langkah Antisipasi Dini

Keterangan Gambar : Rapat Koordinasi Kesiapan Hadapi Musim Kering 2026
Purworejo – Pemerintah Kabupaten Purworejo
melalui BPBD Kabupaten Purworejo menggelar Rapat Koordinasi Kesiapan
Menghadapi Musim Kering Tahun 2026 pada Rabu (8/4/2026) pukul
09.10–11.15 WIB di Aula BPBD Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dihadiri sekitar
40 peserta dari unsur Forkopimda, OPD terkait, camat se-Kabupaten Purworejo,
serta lembaga mitra kebencanaan.
Rakor dilaksanakan sebagai langkah antisipatif
menghadapi potensi musim kemarau dan kekeringan yang diprediksi mulai
berlangsung pada Mei 2026. Dalam paparan BPBD Purworejo yang disampaikan Kabid
Kedaruratan dan Logistik, Suparyono, disebutkan bahwa sepanjang Januari hingga
April 2026 telah terjadi 44 kejadian bencana, terdiri dari 13
tanah longsor, 29 pohon tumbang, dan 2 banjir, dengan total 1.396 jiwa
terdampak.
Selain itu, tercatat 88 rumah mengalami
kerusakan serta 3 fasilitas umum terdampak akibat bencana alam. Meski
demikian, tidak terdapat korban jiwa meninggal maupun hilang dalam periode
tersebut.
BPBD Purworejo juga menyampaikan sejumlah langkah
yang telah dilakukan dalam menghadapi cuaca ekstrem dan pancaroba, antara lain
pemantauan cuaca secara berkala melalui BMKG, penyiagaan personel dan
peralatan, koordinasi lintas sektor, serta edukasi kepada masyarakat mengenai
kesiapsiagaan bencana.
Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau di
Jawa Tengah diperkirakan mulai Mei 2026 dengan puncak musim kemarau pada
Agustus 2026 dan durasi berlangsung sekitar 5–7 bulan. Kondisi ini berpotensi
meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada
sektor pertanian.
Melalui rapat koordinasi ini, pemerintah daerah
bersama instansi terkait menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dan
kesiapan dalam menghadapi musim kering, termasuk menjaga ketahanan pangan dan
meminimalkan dampak kekeringan bagi masyarakat.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan
kewaspadaan dengan menjaga kebersihan saluran air, memangkas pohon rawan
tumbang, menyesuaikan pola tanam pertanian, serta aktif memantau informasi
cuaca resmi dari pemerintah.
.png)


